Membangun Raport9 Juli 2010
Membangun RAPPORT itu tidak ada bedanya dengan membangun hubungan baik sehari-hari. Di NLP, awalnya membangun RAPPORT diperkenalkan dengan teknik sederhana me-MATCHING dan me-MIRROR. Apa saja yang di-MACTH dan di-MIRROR? Postur tubuh, ekspresi wajah, kualitas vocal, system representasional (VAK), pola napas, dan lain-lain. Membicarakan hobby atau event-event terakhir juga termasuk membangun RAPPORT. Prinsipnya adalah membangkitkan pengaruh secara bawah sadar melalui kesamaan MODEL DUNIA. Dengan proses ini kita mengirimkan pesan bahwa kita memahami dan menghormati MODEL DUNIA partner bicara kita. Membangun RAPPORT dewasa ini sudah lebih dari sekedar MATCHING dan MIRRORING. Unsur CONGRUENCY (sinkronisasi antara apa yang kita ucapkan atau lakukan dengan apa yang kita percayai atau values dan beliefs kita) dalam diri kita juga SANGAT PENTING. Artinya apabila kita sedang berbicara dengan seorang karyawan yang sulit misalnya, dan ingin menunjukkan kita peduli tapi dalam hati kita tidak peduli, walau kita sudah berusaha MACTHING dan MIRRORING dalam semua level, RAPPORT tetap bisa sulit terbangun. Saat kita coba mengirimkan pesan secara sadar bahwa ‘Saya peduli pada Anda’ tapi secara bawah sadar kita mengirimkan pesan ‘Peduli setan dengan Anda’, kita tidak CONGRUEN. Dan ini akan mempengaruhi proses RAPPORT. RAPPORT sangat butuh unsur TRUST. Dalam situasi dimana dua orang berbeda pendapat pun RAPPORT tetap bisa terbangun, dan unsur TRUST tadi memainkan peran di situ. Jadi walau berbeda pendapat, keduanya bisa saling mengirimkan pesan bahwa ‘saya menghormati pendapat kamu’. Pernah bertemu dengan seseorang yang coba untuk membangun RAPPORT dengan Anda dengan berbagai cara (walau dengan MATCHING dan MIRRORING yang mahir sekalipun) tapi Anda sendiri seolah mengelak atau tidak ingin merespon? Coba pikirkan sejenak kenapa kira-kira Anda menolak? Dalam banyak kesempatan, bawah sadar kita MENOLAK karena kita membaca atau merasakan ada sesuatu yang TIDAK CONGRUEN dalam diri orang tersebut. Tidak ada unsur TRUST, bukan? Nah, di lain pihak, apabila sinyal yang Anda kirimkan TEPAT, tanpa perlu usaha terlalu banyak dalam hal MATCHING dan MIRRORING pun, RAPPORT bisa terbangun. Sementara sebagai seorang pembicara atau fasilitator di kelas training, adalah PENTING bagi kita sendiri untuk PERCAYA akan bahan yang kita deliver. Kita sendiri sebaiknya punya KREDIBILITAS untuk membicarakan bahan tersebut. Ini untuk menjaga CONGRUENCY. Bagaimanapun juga, audiens harus percaya bahwa kita bisa di PERCAYA, dan bahan kita dipersepsikan BERGUNA untuk mereka, atau setidaknya kita sendiri terlihat dan terasakan oleh mereka PERCAYA sekali dengan MANFAAT materi yang kita sampaikan. Ini saja, sudah memperlancar RAPPORT kita dengan audiens, apabila mereka datang untuk belajar sesuatu dari seseorang yang mereka asumsikan sebagai yang punya KREDIBILITAS untuk mebicarakannya. Dan sejauh proses berjalan, apa yang keluar dari mulut kita, perilaku kita di kelas, contoh-contoh, bahkan apabila ada praktek atau contoh aplikasi langsung, semuanya adalah pembangun RAPPORT. Sedangkan apabila mereka datang karena ‘disuruh’, maka strateginya bisa diawali dengan menciptakan klik-klik terlebih dahulu, misalnya dengan membicarakan KEBUTUHAN mereka, PANDANGAN mereka tentang materi yang akan dibicarakan, bahkan, sebuah cara yang agak radikal, yang kadang saya pergunakan adalah langsung menembak bahwa ‘kita paham bahwa beberapa dari mereka datang karena DISURUH’, lalu lanjut dari situ. Adalah penting untuk selalu mengirimkan sinyal dari dalam hati kita bahwa kita PAHAM situasi mereka (MODEL DUNIA mereka), PAHAM kebutuhan mereka, ingin membantu mereka, dan punya sesuatu yang menurut kita bisa membantu mereka memenuhi KEBUTUHAN mereka. Ingat, karyawan atau seorang peserta training menjadi ‘sulit’, justru karena RAPPORT belum terbangun dengan mereka. Menurut NLP, ‘Resistant in a client is a sign of lack or RAPPORT’. Menurut saya, tidak ada karyawan atau peserta yang langsung sulit. Mereka menjadi sulit karena RAPPORT kita tidak bagus dengan mereka. Dan ingat pula, saat kita sudah memberikan label ‘sulit’ kepada mereka, kita pun akan bereaksi seolah mereka menyulitkan kita. Mungkin FRAME yang lebih berguna adalah karyawan atau peserta yang unik/berbeda (yang membutuhkan penanganan berbeda). Apabila memang menemukan ini, di saat training misalnya, saat break adalah salah satu kesempatan untuk membangun RAPPORT. Selain itu, sepanjang training, cobalah untuk sekali-kali membuat klik dengan mereka, dengan memberikan contoh-contoh yang sesuai dengan pekerjaan, tugas, perilaku, atau kejadian2 yang berhubungan dengan mereka atau interest mereka. Saya beberapa kali mendeteksi beberapa peserta dalam training yang ogah-ogahan dan mengirimkan sinyal ‘kayaknya tidak ada gunanya saya berada di sini’. Yang saya lakukan justru adalah mem-PACING mereka, misalnya dengan mengatakan ‘Saya paham bahwa ada di antara Anda yang berkata dalam hati, kayaknya tidak ada gunanya saya berada di sini’. Biasanya ini membuat klik instant, karena akan muncul di kepala mereka ‘Ya, betul. Itu saya’ Lalu bawalah dari situ, misalnya dengan mengatakan bahwa kita pun pernah menjadi peserta yang ogah-ogahan di sebuah seminar, tapi ternyata setelah akhir seminar, kita pun akhirnya bisa merasakan manfaatnya. Robert Dilts mengungkapkan bahwa RAPPORT adalah proses dimana pihak-pihak yang berkomunikasi membiarkan untuk saling dipengaruhi. Ini berarti membuka diri seluas-luasnya dan saling PERCAYA.
|